Rencana Pengembangan Sistem Angkutan Massal Dukung Pengembangan Wilayah

…………………………………………………………………………………………………………………….

Transportasi merupakan salah satu kebutuhan yang penting dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Selain untuk memperpendek waktu tempuh dalam memindahkan suatu obyek, transportasi juga berfungsi untuk melancarkan hubungan antar satu lokasi ke lokasi yang lain. Untuk meningkatkan pelayanan publik dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, musyawarah perencanaan pembangunan Kota Surabaya Tahun 2011 dalam rangka penyusunan rencana kerja pembangunan daerah tahun anggaran 2012 Pemerintah Kota Surabaya berencana mengembangkan konsep sistem angkutan massal yang terintegrasi antar moda serta pembangunan pedestrian.

Melihat kondisi layanan angkutan umum dan simpul transportasi di Kota Surabaya saat ini masih jauh dari kondisi ideal. Moda transportasi di Kota Surabaya saat ini dilayani oleh 270 kendaraan bus kota dengan 20 trayek, 5016 kendaraan bemo dengan 58 trayek dan angkutan massal regional berupa KA Komuter dengan rute Surabaya-Sidoarjo-Lamongan-Mojokerto. Saat ini masyarakat yang melakukan aktifitas di Surabaya lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Hal ini dikarenakan angkutan umum (bus dan bemo) di Kota Surabaya dalam hal waktu keberangkatan dan kedatangan tidak terjadwal serta kurangnya integrasi antar moda.

Untuk mewujudkan sistem transportasi yang berkelanjutan serta mendukung pengembangan wilayah dengan program pengembangan sistem transportasi, di Tahun 2012 nantinya pemerintah akan mengembangkan konsep sistem angkutan massal dan terintegrasi antar moda. Dalam program tersebut juga akan dilengkapi dengan rencana lokasi park and ride. Selain itu setiap sub-sub terminal di Kota Surabaya akan terkoneksi dengan jaringan transportasi, seperti rencana pembangunan transportasi tramway/ LRT dan rencana angkutan massal berbasis jalan. Dimana kedepanya akan lebih mempermudah pengguna angkutan umum berganti moda sampai ke tempat tujuan serta diharapkan dapat mengurangi konsumsi bahan bakar sehingga emisi dari kendaraan bermotor dapat berkurang.

Peningkatan Kondisi kendaraan Tidak bermotor khususnya pedestrian dalam program pengelolaan dan pembangunan jalan dan jembatan juga akan dimulai di tahun 2012. Pembangunan pedestrian yang sudah dimulai sejak 2006 hingga 2011 tersebut selama ini hannya meliputi kawasan Surabaya Pusat. Rencana pembangunan pengembangan kawasan yang akan dibangun pedestrian di tahun 2012 akan dimulai dari Jl. Mayjend Sungkono, Jl. bubutan, Jl. kedungdoro, Frontage road ahmad yani, Jl. Garuda, Jl. Pasar Wonokromo, Jl. Tembaan, Jl. Walikota Mustajab, Jl. Kebun Rojo, hingga Jl. Tugu Pahlawan Sisi Barat.[fr]

Advertisements

Rencana 13 titik Park and Ride di Kota Surabaya


……………………………………………………………………………………………………………………………………..

Kemacetan menjadi masalah yang komplek dalam kehidupan perkotaan, hal ini yang melatar belakangi perbaikan pengelolaan sistem transportasi perkotaan dan pendukungnya. Dalam program pengembangan sistem transportasi angkutan massal perkotaan, pemerintah Kota (pemkot) Surabaya dalam rangka penyusunan rencana kerja pembangunan daerah tahun anggaran 2012 akan mengembangkan fasilitas park and ride pada sarana dan prasarana transportasi yang ada di Kota Surabaya.

Dengan memanfaatkan meningkatnya jumlah pengguna sepeda akhir-akhir ini, PemkotSurabaya berencana akan membangun jalur sepeda yang terintegrasi dengan jalur pedestrian yang saat ini memiliki lebar yang mencukupi.Konsep jaringan jalur sepeda dan pedestrian tersebut direncanakan akan menghubungkan pusat-pusat kegiatan masyarakat di tengah Kota Surabaya, semisal pusat perbelanjaan dan sekolah.Ini merupakan bentuk untuk mendorong masyarakat menggunakan kendaraan tidak bermotor dalam melakukan perjalanan-perjalanan pendek, selain menghemat biaya juga ramah terhadap lingkungan.Dengan penerapan sistem park and ride nantinya para pengguna sepeda akan memperoleh kemudahan dalam berpindah moda karena dengan memarkir sepeda di lokasi yang telah disediakan, pengguna sepeda dapat melanjutkan kembali perjalanan dengan menggunakan angkutan massal seperti BRT atau angkutan lain ke lokasi yang akana dituju.

Penerapan sistem park and ride ini akan dilakukan di 13 titik yang tersebar di Kota Surabaya. Diantaranya kawasan kendung sememi, pertigaan margomulyo tandes, pertigaan banyu urip simo gunung, Jl. Rajawali, tugu pahlawan, basuki Rahmat, pertigaan pandigiling raya darmo, Jl. Margorejo (bekas SDN Margorejo), Jl.A. Yani (bekas perumahan PT.Iglas), Pertigaan Kedung cowek-Kenjeran, Urip Sumoharjo, Kertajaya, dan Jl. Mayjend Sungkono.

Diharapkan penerapan park and ride serta pengembangan jaringan sepeda yang terintegrasi dengan pedestrian ini dapat mengurangi jumlah kepadatan kendaraan yang melewati jalan-jalan Kota Surabaya. Selain itu penggunaan sepeda merupakan angkutan yang murah, sehat dan ramah lingkungan.[fr]

Sumber : Dinas Perhubungan Kota Surabaya

  • Dishub-Polresta Surabaya Tandatangani kesepakatan bersama Tentang KTL



    …………………………………………………………………………………………………………………….

    “Untuk menciptakan keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran berlalu lintas di Kota Surabaya”, ujar Plt. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya Eddy disela-sela penandatanganan naskah kesepakatan bersama. Kesepakatan ini berisi tentang kerjasama perencanaan dan pengawasan manajemen dan rekayasa lalu lintas serta penertiban pelanggaran lalu lintas dan angkutan jalan di Kawasan Tertib Lalu Lintas (KTL) di Kota Surabaya antara Dinas Perhubungan Pemerintah Kota Surabaya dengan Kepolisian Resor Kota Surabaya, Rabu 26 Januari 2011.

    Penandatanganan naskah kesepakatan bersama ini dilakukan di Ruang Rapat Dishub lt.1 oleh Plt Ka.Dishub Surabaya Eddy, A.Md LLAJ, S.Sos, MM dan AKBP Asep Akbar Hikmana S.I.K., MH Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya. Kesepakatan bersama ini berjangka waktu 1 tahun sejak penandatanganan kesepakatan bersama tersebut.

    Kerjasama ini merupakan salah satu langkah dalam penanganan permasalahan lalu lintas di KTL Kota Surabaya. Penetapan KTL yang berdasarkan Keputusan Walikota Madya Kepala Daerah Tingkat II Surabaya nomor 16 Tahun 1997 tentang Penetapan Kawasan Tertib Lalu Lintas pada jalan-jalan di wilayah kotamadya daerah tingkat II Surabaya. Saat ini kota Surabaya baru memiliki 5 titik KTL yaitu Jl. Raya Darmo, Basuki Rahmat, Jl. Gubernur Suryo, Jl. Panglima Sudirman dan Jl. Pemuda dari 21 titik yang direncanakan.

    Dalam kesempatan yang sama Kepala Bidang Lalu Lintas Drs. Agus Haris, MM menambahkan:”pemasangan rambu petunjuk Kawasan Lalu Lintas (KTL) juga akan segera terpasang setelah penandatanganan kesepakatan ini.” Selain itu akan dilakukan penambahan rambu dan marka di 5 titik KTL yang ada. Dengan penandatanganan kesepakatan bersama ini diharapkan pelaksanaan penertiban/ pengendalian, pemeriksaan serta penindakan atas pelanggaran di bidang lalu lintas dan angkutan jalan dapat berjalan lancar.[fr]
    Source : Dinas Perhubungan Surabaya

    Konsep Penerapan BRT di Surabaya Tidak Mengulangi Kegagalan Di Kota Lain

    “Warga Kota Surabaya menginginkan angkutan massal (BRT) yang mengutamakan keamanan dan kenyamanan Masyarakat sebagai pengguna angkutan” kata Wakil Walikota Surabaya Bambang Dwi Hartono, Rabu 3 Nopember 2010.

    Dalam pertemuan di ruang rapat Sekertaris Daerah (Sekda) yang diikuti oleh Wakil Walikota Surabaya Bambang DH, Dinas Perhubungan (Dishub) KOta Surabaya, Badan Perencana Kota (bappeko) dan Tim Indii dibahas masalah perencanaan project Surabaya Bus Rapid Transit (BRT).Pengoperasian BRT sebagai salah satu cara mengatasi kemacetan dan membangun transportasi yang baik guna mendukung urban mobility (mobilitas perkotaan).

    Ada beberapa hal yang dibahas dalam pertemuan tersebut, antara lain arsitektur halte, pengijauan sekitar halte. serta Kapasitas penumpang on bus terutama dalam waktu jam sibuk, pewarnaan jalur khusus BRT, desain bus dan interior bus.

    Contoh penerapan BRT di beberapa negara juga dibahas dalam pertemuan tersebut, seperti keuntungan dan kerugian guna mendapatkan sistem BRT yang baik di Surabaya. Beberapa persoalan yang harus diselesaikan juga menjadi pembahasan seperti, mengubah angkutan kota (angkot) yang sudah ada menjadi transportasi publik yang setara dengan BRT dalam hal pelayanan maupun fasilitas. Dimana nantinya angkot ankan menjadi angkutan penunjang (feeder) bagi BRt di Surabaya.

    Dalam pertemuan tersebut, Bambang DH juga menekankan penerapan BRT di Surabaya nantinya tidak mengulang kesalahan beberapa kota di Indonesia. Tidak mencontoh dari BRT di kota-kota di Indonesia yang terlalu memaksakan lantai tinggi dan jembatan penghubung penggunaan halte yang terlalu tertutup sehingga rawan kejahatan.

    Pembangunan BRT ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan mobilitas perkotaan yang cukup tinggi agar masyarakat merasa aman, lancar dan nyaman dalam menggunakannya, terutama untuk manula dan penyandang cacat. Diharapkan pula Angkutan Massal di Kota Surabaya ini nantinya menjadi model percontohan angkutan massal yang mempunyai ciri khas kota Surabaya.